▴Anti Gratifikasi▴
▴Kanal Aduan▴ - CAMAT LOANO PIMPIN APEL PERDANA PASCA IDUL FITRI 1447 H DAN SOSIALISASI ANTIGRATIFIKASI
- CAMAT LOANO BERSAMA KEPALA DESA JALIN SILATURAHMI KE KEDIAMAN CAMAT PURWOREJO
- CAMAT LOANO TERIMA KUNJUNGAN SILATURAHMI DAN HALAL BIHALAL FORUM KOMUNITAS DISABILITAS DAN PKH
- CAMAT LOANO PIMPIN KERJA BAKTI BERSIHKAN LINGKUNGAN KANTOR KECAMATAN
- MUSRENBANG RKPD 2027 KABUPATEN PURWOREJO, WUJUDKAN PERENCANAAN PARTISIPATIF DAN BERKELANJUTAN
- SOSIALISASI PERIZINAN BERUSAHA BERBASIS RISIKO DI KECAMATAN LOANO TINGKATKAN PEMAHAMAN PELAKU UMKM
- HALAL BIHALAL KELUARGA BESAR KECAMATAN LOANO 1447 H / 2026 M, PERKUAT KEBERSAMAAN DAN SINERGI LINTAS SEKTOR
- KASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KECAMATAN LOANO HADIRI SOSIALISASI KMK TENTANG PENGHARGAAN KABUPATEN/KOTA BEBAS PASUNG
- CAMAT LOANO PIMPIN RAPAT KOORDINASI BERSAMA PENDAMPING DESA DAN PENDAMPING LOKAL DESA
- KECAMATAN LOANO GELAR STAFF MEETING BAHAS RENCANA KERJA AKHIR MARET DAN SOSIALISASI PENCEGAHAN GRATIFIKASI
NYAWIJI ROSO - KIRAB MERTI DESA TRIREJO
Peringatan hari jadi ke 111 Desa Trirejo

Keterangan Gambar : Persiapan Arak-Arakan Gunungan dalam Acara Merti Desa Trirejo
Peringatan hari jadi Desa Trirejo, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo berlangsung meriah dengan acara Merti Desa Nyawiji Roso yang diisi rampakan dan arak-arakan gunungan hasil bumi di lapangan Desa Trirejo pada Kamis (8/8).
Kegiatan yang pertama kali dilakukan setelah 111 tahun Desa Trirejo berdiri menampilkan kirab budaya dengan 3 maskot utama yang menjadi simbol sejarah terbentuknya Desa Trirejo yang berarti tiga kemakmuran atau tiga kesejahteraan. Sesuai sejarahnya, Desa Trirejo terbentuk dari penggabungan 3 wilayah yakni Watu Belah, Sejiwan, dan Kedungdowo yang kemudian bersatu atas inisiasi para pendahulu.
Acara diawali dengan kirab budaya dan arak-arakan 6 gunungan hasil bumi dan 15 tumpeng dari start Dusun Kedungdowo menyusuri Jalan Purworejo-Magelang sampai titik finish di Balai Desa Trirejo yang disambut antusias oleh masyarakat setempat.
Usai kirab dilaksanakan, acara dilanjutkan dengan upacara Golong Gilig sebagai simbol terbentuknya Desa Trirejo dan rangkaian acara rampakan diakhiri rebutan gunungan hasil bumi oleh masyarakat setempat.
Kepala Desa Trirejo, Andhi Prasetiawan menyampaikan acara tersebut mengusung tema Nyawiji Roso, peringatan hari jadi Desa Trirejo diharapkan dapat memupuk rasa kebersamaan masyarakat untuk saling berbaur menjadi satu rasa mewujudkan desa yang lebih maju dan mandiri.
“Pada hari ini 8 Agustus 2024 Desa Trirejo menggelar Merti Desa dengan tema Nyawiji Roso. Tema tersebut kita ambil karena berdirinya Desa Trirejo dari 3 wilayah menjadi satu desa pada tahun 1913. Berarti pada waktu ini kita berulangtahun ke yang 111. Dengan tema nyawiji roso harapannya semua lapisan masyarakat dapat berbaur menjadi satu rasa bersemangat membangun desa lebih maju lagi menjadi desa yang mandiri,”
Kirab budaya dilakukan oleh Kepala Desa Trirejo dan perwakilan dari 15 rt dari 5 dusun di Desa Trirejo juga dimeriahkan dengan adanya iringan pasukan Bergodo dari Desa Loano.
Upacara Golong Gilig menjadi simbolisasi bergabungnya tiga wilayah Watu Belah, Sejiwan, dan Kedungdowo menjadi satu sejak 1913 yang diinisiasi oleh para pendahulu sehingga terbentuklah Desa Trirejo yang ada sampai sekarang.
“Golog gilig menjadi simbol menggabungkan 3 desa yakni Watu belah, Sejiwan, dan Kedungdowo menjadi satu Desa Trirejo yang maksudnya tiga kemakmuran tiga kesejahteraan,” ucapnya.
Gunungan hasil bumi yang diperebutkan pun tidak semata-mata merupakan bentuk kemeriahan, lebih dari itu gunungan hasil bumi yang telah didoakan merupakan simbol berkah sehingga rebutan yang dilakukan masyarakat dapat dimakanai saling berebut berkah.
“Isi gunungannya hasil-hasil bumi, polo kependem, polo kesampar, polo gumantung, hasil panen masyarakat. Rebutan ini bukan hanya sekedar berebut hasil panen tapi gunungan yang telah didoakan merupakan berkah sehingga ini bermakna berebut berkah,” terangnya.
Usai menggelar acara ini rencananya pemdes Trirejo akan melakukan evaluasi dengan Musyawarah Desa (Musdes) sehingga nantinya kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin dalam rentang waktu tertentu.
“Nanti kita evaluasi melalui Musdes istimewa bagaimana sebaiknya acara ini bisa dilakukan secara berkala,” ucapnya.
Rangakaian kegiatan ini telah dimulai sejak 6 Agustus 2024 bertepatan dengan tanggal 1 Safar yang merupakan hasil kesepakatan dari pemdes, tokoh masyarakat dan ulama setempat. Kedepannya peringatan serupa juga akan dilaksanakan pada 1 Safar.


