▴Anti Gratifikasi▴
▴Kanal Aduan▴ - TP PKK KABUPATEN PURWOREJO EVALUASI 10 PROGRAM POKOK PKK TAHUN 2026 DI DESA TEPANSARI LOANO
- GELAR MUSDES RKPDES 2027 DAN DU RKP 2028, PEMDES KALINONGKO TERIMA PENGAWALAN TIM MONITORING KECAMATAN
- TINJAU PUSKESMAS BANYUASIN, WAMENKES DR. BENJAMIN PAULUS OCTAVIANUS DORONG PENGUATAN LAYANAN PRIMER DAN ELIMINASI TBC
- MUSDES KALISEMO TETAPKAN RKPDES 2027 DAN DU RKP 2028, TIM MONITORING KECAMATAN LOANO LAKUKAN PENGAWALAN
- SEKARAN HILLS SEDAYU, DESTINASI WISATA BARU LOANO BERBASIS GOTONG ROYONG DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
- CAMAT LOANO HADIRI SENAM BERSAMA, LOMBA YEL-YEL DAN ADMINISTRASI TP PKK DESA KALISEMO
- CAMAT LOANO HADIRI PELANTIKAN PENGURUS POLOSORO MASA BAKTI 2026–2030
- RESEPSI DAN PENTAS SENI TUTUP RANGKAIAN HUT KE-81 KEMERDEKAAN RI TINGKAT KECAMATAN LOANO
- PENTAS SENI PENCAK SILAT TRADISIONAL MERIAHKAN HUT KE-81 RI DI DUSUN SRETE KALIGLAGAH
- SEMARAK HUT KE-81 RI, KECAMATAN LOANO GELAR JALAN SEHAT DAN SENAM BERSAMA
SEKARAN HILLS SEDAYU, DESTINASI WISATA BARU LOANO BERBASIS GOTONG ROYONG DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Keterangan Gambar : Gebyar Wisata Loano, Bazar UMKM dan Launching Sekaran Hills 11–13 September 2026 di Lapangan Menoreh, Desa Sedayu.
Loano Go News – Kecamatan Loano terus mendorong pengembangan potensi pariwisata berbasis masyarakat sebagai salah satu upaya membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan warga. Salah satu potensi yang kini mulai dikembangkan adalah Sekaran Hills, destinasi wisata alam yang berada di Dusun Krajan, Desa Sedayu.
Pengembangan Sekaran Hills menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Gebyar Wisata Loano, Bazar UMKM dan Launching Sekaran Hills yang dilaksanakan selama tiga hari, Jumat–Minggu (11–13 September 2026), berpusat di Lapangan Menoreh, Desa Sedayu.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Camat Loano Vivin Suryandari Feriyani, S.STP., MM., didampingi unsur Forkompinca, Pemerintah Desa Sedayu, serta lintas sektor. Gebyar Wisata Loano tidak hanya menjadi ruang promosi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), tetapi juga menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi wisata alam di wilayah Loano Timur sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengembangan sektor pariwisata.
Ketua panitia sekaligus Kepala MA Riyadlul Muta'allimin, Efrida Noviyanto, S.Kom., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dipelopori oleh Bagelen Institute sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, khususnya di wilayah Loano Timur.
“Intinya ingin mengembangkan wisata di wilayah Loano Timur, khususnya Kecamatan Loano bagian timur. Dengan adanya kegiatan ini dan juga peresmian Sekaran Hills, diharapkan nanti bisa mengembangkan pariwisata di wilayah Purworejo, khususnya Loano Timur,” ungkapnya.
Selama tiga hari pelaksanaan, masyarakat disuguhkan berbagai kegiatan, mulai dari bazar UMKM, sarasehan wisata, soft launching dan grand launching Sekaran Hills, lomba mewarnai, pertunjukan seni, senam bersama hingga pementasan kuda lumping.
Bazar UMKM turut menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Sekitar 50 stan disiapkan dengan melibatkan pelaku UMKM Desa Sedayu, pedagang Pasar Menoreh, UMKM dari desa-desa se-Kecamatan Loano, UMKM Pinunjul Kecamatan Loano, hingga pelaku usaha dari luar Loano, termasuk dari wilayah Purworejo dan Kutoarjo.
Kehadiran puluhan pelaku usaha tersebut menjadi bentuk nyata bahwa pengembangan pariwisata dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Destinasi wisata diharapkan mampu menjadi ruang bertemunya wisatawan dengan berbagai produk lokal yang dihasilkan masyarakat.
Sekaran Hills memiliki daya tarik berupa kawasan perbukitan dan persawahan di Dusun Krajan, Desa Sedayu. Dari kawasan tersebut, pengunjung dapat menikmati panorama pegunungan dan hamparan persawahan Menoreh.
Sejumlah gazebo telah dibangun untuk menjadi tempat menikmati pemandangan sekaligus ruang berkegiatan bagi masyarakat dan pengunjung.
Namun, yang menjadi keunikan Sekaran Hills bukan hanya panorama alamnya. Destinasi tersebut dikembangkan dengan konsep wisata berbasis masyarakat, di mana warga tidak hanya ditempatkan sebagai pekerja, tetapi juga diarahkan untuk terlibat dalam pembangunan dan kepemilikan usaha.
Inisiator Sekaran Hills, Sugeng Pamuji, menjelaskan bahwa gagasan tersebut berangkat dari keinginan untuk mengurangi kesenjangan ekonomi masyarakat Desa Sedayu.
“Kalau tempat wisata lain ada investor datang, kemudian membangun lokasi dan masyarakat hanya sebagai penonton atau pekerja. Kalau di sini konsepnya saya balik. Mayoritas pemilik saham nantinya adalah masyarakat,” jelasnya.
Menurut Sugeng, masyarakat yang memiliki kemampuan modal dapat berpartisipasi melalui kepemilikan saham. Sementara bagi masyarakat yang tidak memiliki modal berupa uang, kontribusi dapat diberikan dalam bentuk bahan seperti kayu dan bambu maupun tenaga. Kontribusi tersebut selanjutnya direncanakan dapat dikonversikan menjadi bagian dari kepemilikan.
Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya membangun destinasi wisata yang tumbuh dari masyarakat dan memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat.
Pembangunan awal Sekaran Hills dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat selama kurang lebih dua bulan. Pengembangan kawasan direncanakan dilakukan secara bertahap dengan tetap mempertahankan karakter alami kawasan persawahan dan perbukitan.
Pada tahap awal, kawasan telah dilengkapi sejumlah gazebo. Ke depan, pengelola menyiapkan pengembangan view deck, spot foto, area kuliner, outbound serta berbagai program edukasi.
Pengembangan berikutnya direncanakan mencakup fasilitas glamping dan waterpark, dengan luasan kawasan yang secara bertahap diproyeksikan berkembang hingga sekitar satu hektare.
“Intinya pada awal ini kami memanfaatkan segala kemampuan masyarakat di sini untuk mewujudkan ini, dari saung-saungnya sampai programnya,” ujar Sugeng.
Dengan pendekatan tersebut, pembangunan Sekaran Hills tidak hanya mengandalkan investasi dalam bentuk modal, tetapi juga memanfaatkan potensi, keterampilan, sumber daya, dan semangat gotong royong masyarakat setempat.
Sekaran Hills dirancang tidak sekadar sebagai tempat untuk menikmati panorama alam. Pengelola menyiapkan sejumlah program yang menggabungkan unsur wisata, edukasi, pertanian, teknologi dan pemberdayaan UMKM.
Sekitar 50 orang ditargetkan dapat terlibat langsung dalam pengelolaan maupun berbagai aktivitas yang dikembangkan di kawasan tersebut.
Salah satu program yang disiapkan adalah Bootcamp Culinary, yang memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengembangkan ide dan keterampilan kuliner hingga menjadi usaha yang selanjutnya dapat mengisi tenant di kawasan wisata.
Selain itu, terdapat program Gerakan Nasional Sejuta Wirausaha (GNSW) yang diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat desa dalam memanfaatkan teknologi internet.
“Harapannya dari 20 desa yang ada di Loano nanti ada sekitar 200 orang yang bisa kita latih dan menjadi influencer kami ke depan,” jelas Sugeng.
Pengelola juga menyiapkan berbagai produk khas berbahan lokal yang diharapkan dapat menjadi identitas kuliner Sekaran Hills sekaligus menjadi sarana untuk mengangkat produk UMKM masyarakat Desa Sedayu.
Menariknya, Sekaran Hills juga dirancang sebagai destinasi yang tidak menerapkan tiket masuk. Masyarakat dapat berkunjung, berkegiatan maupun menggelar pertemuan dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia.
Dari sisi lokasi, Sekaran Hills berada sekitar 500 meter dari Kantor Kecamatan Loano dan sekitar 200 meter dari pusat Pemerintahan Desa Sedayu. Dengan fasilitas yang tersedia saat ini, kawasan tersebut diperkirakan mampu menampung sekitar 100 orang.
Camat Loano Vivin Suryandari Feriyani, S.STP., MM. menyampaikan bahwa kegiatan expo UMKM yang dilaksanakan pada tahun ini merupakan pelaksanaan tahun kedua. Namun, pada 2026 kegiatan tersebut dikembangkan dengan memperkenalkan sekaligus meluncurkan destinasi wisata baru di wilayah Kecamatan Loano.
“Kami selalu menggandeng lengkap 21 desa se-Kecamatan Loano agar ikut berpartisipasi, ikut memamerkan produknya, sekaligus pemberdayaan masyarakat,” ujar Vivin.
Menurutnya, expo dan bazar menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan inovasi serta berbagai produk yang dikembangkan di masing-masing desa. Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan dan perekonomian masyarakat.
“Kalau tidak ada event seperti ini, barangkali masyarakat sudah melakukan inovasi dan pemberdayaan di wilayah masing-masing, hanya saja kurang ter-blow up. Dengan event ini kami berharap menjadi motivasi bagi seluruh masyarakat di Kecamatan Loano untuk semakin mengembangkan diri,” tambahnya.
Vivin menilai Kecamatan Loano memiliki keunggulan dalam potensi wisata alam karena secara geografis berada di kawasan perbukitan. Selain panorama pegunungan, Loano juga memiliki potensi wisata berbasis air, salah satunya tubing river di Desa Trirejo yang telah dikenal hingga luar Kabupaten Purworejo.
Keberadaan Sekaran Hills diharapkan semakin memperkaya pilihan destinasi wisata di Kecamatan Loano sekaligus dapat dikembangkan secara terintegrasi dengan potensi wisata yang berada di desa-desa lainnya.
“Kami inginnya ini juga menjadi sebuah paket dari kabupaten bahwa di Loano ada salah satu wisata alam, yaitu Sekaran Hills. Dikolaborasikan juga dengan desa-desa lain yang ada di Kecamatan Loano,” jelasnya.
Pengembangan Sekaran Hills juga memiliki peluang untuk dikoneksikan dengan sejumlah destinasi wisata di kawasan Menoreh, termasuk Tumpeng Menoreh dan Nglinggo.
Konektivitas antarwilayah menjadi salah satu hal yang penting untuk dikembangkan agar wisatawan tidak hanya mengunjungi satu destinasi, tetapi dapat melanjutkan perjalanan ke berbagai objek wisata lainnya.
Di sisi lain, pengembangan infrastruktur dan akses menuju lokasi masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama. Kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, pengelola wisata, pelaku usaha dan berbagai pihak terkait diharapkan dapat meningkatkan konektivitas serta mendukung perkembangan kawasan.
Dengan konsep wisata berbasis masyarakat, Sekaran Hills diharapkan mampu menjadi lebih dari sekadar destinasi baru. Kawasan tersebut diharapkan tumbuh sebagai ruang pemberdayaan masyarakat, pengembangan UMKM, penciptaan peluang usaha dan penggerak ekonomi lokal.
Semangat gotong royong yang menjadi fondasi awal pembangunan Sekaran Hills menjadi modal penting untuk mewujudkan destinasi wisata yang tumbuh bersama masyarakat.
Sekaran Hills – tumbuh dari potensi alam, dibangun dengan gotong royong, dan diarahkan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat Loano.


.png)
